Thursday, October 12, 2006

POSTING TENTANG SAINS YANG MEWAKILI SEBAGIAN PANDANGAN SAYA

Berikut adalah kritik semi poin per poin saya terhadap sebuah tulisan yang terdapat pada: http://zamanku.blogspot.com/2005/10/intelligent-design-pencampur-aduk.html. Tulisan ini saya ini diposting di thread Intelligent Design Vs Evolusi di www.partaidamaisejahtera.com/forum.htm. Alasan saya untuk posting di sini adalah karena berhubungan dengan pandangan saya mengenai sains.


INI ADALAH POSTINGAN ASLI.

Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam)

Mas [SNIP] dan teman-teman yth,Sebelumnya pernah saya posting tentang siapa
Harun Yahya. Saya sebut Harun Yahya karena dialah yang secara terang-terangan
mengklaim telah berhasilmeruntuhkan Teori Evolusi - walau cuma lewat tulisan di
salah satu bukunya. Ia sendiri (dan tim kerjanya) tak menciptakan teori baru
untuk menyanggahnya,tapi cukup mencari celah dan titik-titik kelemahan dari
temuan para evolusionis plus berbekal kitab suci saja. Teori lama yang sudah
diperbarui oleh ilmuwan lainnya pun masih mereka perdebatkan. Seolah meruntuhkan
teori ilmiah yang sudah berusia ratusan tahun lamanya itu bagai mencomot durian
gratisan yang runtuh dari pohonnya saja. Langkahnya lazim disebut 'science
berbungkus agama'. Saya tampilkan sosok Harun Yahya karena Anda pernah menyebut
tentang "Intelligent Design", dan juga dipostingan sebelumnya sekilas pernah
menyebut tentang "dari kera jadi manusia", "missing link", dan majalah
"Scientific America". Terkait dengan statement "dari kera jadi
manusia",pertanyaan saya: "Apakah Anda sudah membaca buku The Origin of
Species"?Kalau belum, maklum ada pernyataan seperti itu. Kalau sudah, di bab
manadan di halaman berapa kalimat itu tercantum? Intinya, teori evolusi
(Darwinisme) cuma menduga bahwa nenek moyang species manusia dan species
kera/monyet itu adalah sama, bukan dari berwujud kera lalu dalam
prosesnyamenjadi manusia.Lalu tentang majalah "Scientific America". Kalau tak
salah, Anda pernah studi di AS kan? Atau sekarang masih mukim disana? Coba cek
di toko buku sebelah, bentuknya seperti apa majalah "Scientific America"
tersebut. Atau kalau Anda sudah mengoleksinya, coba buka halaman demi halaman.
Lalu simpulkan, redaksionalnya condong ke arah mana. Majalah itu adalah salah
satu publikasi milik kaum kreasionis, tak bisa disejajarkan dengan "Nature" dan
lainnya. Mungkin majalahitu bisa disejajarkan dengan majalah "Dharmais" terbitan
kroni Soehartoyang dulu sempat terbit di Indonesia. Isinya ya mau tidak mau
musti memuji langkah-langkah Soeharto di masa lalu. Terbukti majalah itu lalu
mati berkalang kubur, karena ya jumlah pembacanya amat-amat terbatas. Mana mau
sih masyarakat kita yang sudah cerdas - namun dengan kantong cekak - mau membeli
'kemasan propaganda'? Linknya kok tidak disertakan? -> Anda menulis: "Selain
itu silakan baca tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau). Dia juga
ilmuwan yang kebetulan beragama kuat."Kreasionis vs Evolusionis (tolong jangan
dibaca Science vs Religion)Kembali ke Harun Yahya. Sebagaimana kita tahu, Harun
Yahya hanyalah satu dari sekian ribu kreasionis yang rajin merecoki temuan para
ilmuwan. Mereka boleh dibilang sebagai "kelompok pengganggu" temuan-temuan dari
para ilmuwan murni, bukan ilmuwan gadungan. Mereka inilah kelompok yang suka
mencampur adukkan antara sains dan agama. Mereka juga hobi mencomot 'nama' untuk
menjustifikasi suatu kebenaran saintifik. Ini kebiasaan buruk para kreasionis,
yang suka mencantumkan nama-nama terkenal dan deretan gelar akademis (bahkan
sering tidak punya kaitan) untuk 'pamer' bahwa kreasionisme juga bagian dari
sains.'Tokoh kreasionis' lainnya bisa disebut nama Michael Behe, Duane T. Gish,
Ken Ham dan lainnya. Mungkin profesor yang Anda sebut itu termasuk dalam
kelompok ini.Beragam publikasi untuk membentuk opini masyarakat mereka terbitkan
dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Tak cuma media massa
konvensional, mereka juga merambah ke internet dengan berbagai situs web-nya
yang 'penuh keajabiban'. Bahkan di AS, para kreasionis mendirikan sebuah museum
berkonsep sesuaidengan apa yang dia mau tentang penciptaan manusia. Tak heran
kalau di salah satu etalasenya bertengger patung Adam Hawa yang dikelilingi
dinosaurus, seolah mereka pernah hidup sezaman. Juga ada patung Noah lagi naik
kapal untuk menghindari banjir bandang yang melanda. Mereka juga rajin
'mengilik-ilik' pemerintah federal agar mengajarkan teori penciptaan di
sekolah-sekolah sesuai kitab suci bukanmenurut teori evolusi. Lalu terciptalah
istilah 'creationism vs evolutionist'. Lalu dari mana duitnya? Tentu saja para
kreasionis ini punya pendana - merekayang punya kepentingan (Alangkah indahnya
andai dana itu disalurkan keorang-orang papa yang bertebaran dimana-mana, biar
tak mubazir tentu saja). Biarkan sains dan agama berjalan di relnya
masing-masingJangan heran kalau saya pernah tuliskan "Biarkan sains dan agama
berjalandi relnya masing-masing, tak perlu dicampuradukkan". Kalau kita
bicarasoal spiritual yang menyemangati hidup kita semua okelah, tak sebatas pada
ajaran agama saja. Kalau Anda bilang, "Agama seharusnya tidak boleh bertentangan
dengan sains. Jika saat ini tampak bertentangan, kitanya yang masih belum cukup
pandai". Saya pribadi tak setuju dengan pendapat itu. Ini sama saja mengatakan,
"Sains tak boleh bertentangan dengan agama." Seperti kita tahu, klaim ini
berakibat serius, dimana pada masa lalu ada ilmuwan dihukum gantung, dibantai,
atau minimal dikucilkan karena temuannya dianggap bertentangan dengan dogma
agama. Dulu dipercaya bumi itu datar atau mirip topi, tapi kenyataannya bumi itu
bulat. Namanya juga relnya berbeda, antara sains dan agama tak perlu dicampur
adukkan, apalagi dipertentangkan. Untuk apa? Kecuali kalau sains dan agama
dipaksakan berjalan di rel yang sama. Kalau pada zaman kini isue itu
dimunculkan, amat bertentangan dengan kebebasan berekspresi. Belum lagi kalau
kita bicara soal temuan kloning yang oleh otoritas Vatikan sudah buru-buru
dilarang. Ada pihak yang sudah mengkomersialkan jasa kloning, seperti kloning
anjing dan kucing dengan tarip sekian dollar. Dan tak lama lagi bakal ada
manusia yang hidup di bumi karena hasil kloning, dimana para ilmuwan sedang
membuat genome makhluk sebanyak-banyaknya dalam proyek 'Noah Ark'. Mirip seperti
film Schwartzenegger "6 Days". Apakah kelak MUI juga akan mengeluarkan fatwa
haram untuk kloning? Terbukti apa yang dilakukan kaum kreasionis ini berupaya
menubrukkan gerbong sains dan agama, namun langkahnya sia-sia belaka. Para
ilmuwan tak peduli dan tak menanggapi apa yang mereka lakukan dan apa yang
mereka perbuat. Bukannya mereka sok atau angkuh, tapi kenyataannya walau
berbau-bau ilmiah, karya para kreasionis dianggap sama sekali tak ilmiah, karena
mencampur adukkan sains dan agama. Kecuali kalau artikel karya Harun Yahya dan
lainnya termuat di majalah NATURE,baru mereka tanggapi secara ilmiah. Mungkin
saja para kreasionis pernahmengirimkan seonggok artikel ke meja redaksi NATURE,
tapi oleh redaksinya dibuang ke tong sampah karena tak layak muat.Serangan Harun
YahyaMenurut Harun Yahya, teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun
kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap evolusi sebagai
fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui media adalah kunci
keberhasilan penipuan ini. Singkatnya, media dan kalangan akademisi yang menjadi
pusat-pusat kekuatananti agama, mempertahankan pandangan evolusionis dan
memaksakannya kepadamasyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif sehingga akhirnya
evolusi menjadisebuah gagasan yang tidak pernah ditolak. Penolakan terhadap
teori evolusidianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan
mengabaikanrealitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan
telahtersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui
ilmuwanevolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi
dalamlingkungan ilmiah atau dalam media.Kaum evolusionis mendapat banyak
keuntungan dari program "cuci otak" media.Banyak orang percaya begitu saja pada
evolusi tanpa merasa perlu bertanya"bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti
evolusionis dapat mengemaskebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga
mampu meyakinkan orangdengan mudah.Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka,
teori evolusi adalahdongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang
sangat tidak masukakal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki
kekuatan dankecerdasan ajaib untuk menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang
kompleks.Kisah panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek.
Beberapa media yang ia tuding diantaranya adalah Nature, Time,
NationalGeographic, Scientific American, dan Focus. Harun Yahya menuduh
bahwaderetan media massa prestisius yang dibaca jutaan umat manusia di
berbagaibelahan bumi itu mengambil teori evolusi sebagai ideologi.




DAN INI ADALAH TANGGAPAN SAYA DENGAN MENGUTIP DARI TULISAN INI:



Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam)


Menarik sekali! Seolah - olah sains itu bebas dari iman!


Mereka inilah kelompok yang suka mencampur adukkan antara sains dan agama.


Lihat di atas.


'Tokoh kreasionis' lainnya bisa disebut nama Michael Behe, Duane T. Gish, Ken
Ham dan lainnya. Mungkin profesor yang Anda sebut itu termasuk dalam kelompok
ini.


Aneh, Behe di masukkan sebagai kreasionis! (bukan berarti bahwa kreasionis lebih buruk dari yang lain) Anyway, apa ya definisi kreasionis menurut si penulis ini?


Tak heran kalau di salah satu etalasenya (note: maksudnya para kreasionis)
bertengger patung Adam Hawa yang dikelilingi dinosaurus, seolah mereka pernah
hidup sezaman..........

Dan para evolusionis itu membuat patung - patung yang menunjukkan seolah - olah semua makhluk hidup memiliki nenek moyang yang sama.


Biarkan sains dan agama berjalan di relnya masing-masing


Seolah - olah sains tidak berbasis iman!


Serangan Harun YahyaMenurut Harun Yahya, teori evolusi tidak mempunyai dasar
ilmiah. Namun kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap
evolusi sebagai fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui
media adalah kunci keberhasilan penipuan ini. Singkatnya, media dan kalangan
akademisi yang menjadi pusat-pusat kekuatan anti agama, mempertahankan pandangan
evolusionis dan memaksakannya kepada masyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif
sehingga akhirnya evolusi menjadi sebuah gagasan yang tidak pernah ditolak.
Penolakan terhadap teori evolusi dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan
dan mengabaikan realitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan
telah tersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui ilmuwan
evolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi dalam lingkungan
ilmiah atau dalam media.Kaum evolusionis mendapat banyak keuntungan dari program
"cuci otak" media.Banyak orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasa
perlu bertanya "bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti evolusionis dapat
mengemaskebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan
orang dengan mudah.Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka, teori evolusi
adalah dongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang sangat tidak
masuk akal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki kekuatan dan
kecerdasan ajaib untuk menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks. Kisah
panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek. Harun Yahya
menuduh bahwa deretan media massa prestisius yang dibaca jutaan umat manusia di
berbagai belahan bumi itu mengambil teori evolusi sebagai ideologi.


OK...banyak hal yang saya tidak setuju dengan Harun Yahya. Saya bukan pengikut Yahya. Tapi argumen ad hominem yang coba dikedepankan penulis ini tidak tepat dan patut dipertanyakan kesyahihannya. Yang saya maksudkan dengan argumen ad hominem adalah argumen dimana seseorang mengambil posisi lawan bicara kemudian dari posisi itu secara syah mengambil kesimpulan yang bertentangan dengan posisi lawan bicara (ini adalah ad hominem yang syah, tapi ada pula ad hominem yang tidak syah). Salah satu contoh ad hominem (yang syah) dalam Alkitab adalah tulisan Paulus yang dalam 2 Kor 12:16


Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi--kamu
katakan--dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya.

yang sering diangkat oleh islam - islam di forum ini untuk menunjukkan bahwa Paulus sendiri mengakui bahwa dia licik. Si Penulis memang merepresentasikan posisi Yahya dan Kreasionis lain, tapi kesimpulannya tidak syah. Hanya karena berbagai media masa yang disebutkan itu prestisius dan dibaca banyak orang apakah berarti bahwa pasti benar?????? Belum tentu!!! Kita harus melihat terlebih dahulu bagaimana argumen - argumen dalam media massa tersebut baru bisa menganggapnya benar.


Intinya, teori evolusi (Darwinisme) cuma menduga bahwa nenek moyang species
manusia dan species kera/monyet itu adalah sama, bukan dari berwujud kera lalu
dalam prosesnya menjadi manusia.


Yea...menduga! Itu kata kuncinya! Tapi lihatlah kelakuan dari para ahli evolusi; evolusi tidak dipandang seperti layaknya sains yang lain boleh dimodifikas atau dirubah atau dibuang berdasarkan hasil pengamatan. Mereka menjadikan evolusi sebagai dogma. Apa bedanya dengan agama??? Tidak berarti bahwa agama lebih jelek dari sains. Soal nenek moyang manusia bukan kera tadi; memang benar Evolusi tidak mengajarkan manusia berasal dari kera tapi lebih jelek dari itu, manusia serta semua makhluk hidup lain di alam bumi ini berasal dari nenek moyang yang sama yaitu organisme bersel satu. Dan menurut mereka kalau ditelusuri maka sebenarnya semua makhluk hidup itu hanyalah hasil dari reaksi kimia buta.Aneh memang, dulu waktu aku di SMP pertama - tama yang diajarkan adalah bahwa organisme tidak terbentuk dari bahan - bahan organis secara spontan tapi makhluk hidup sebenarnya berasal dari makhluk hidup. Tetapi setelah sampai di SMA, apa yang diajarkan di SMP itu ditolak mentah - mentah dalam pelajaran tentang evolusi. Bingung deh..mau ikut yang mana!



Terbukti apa yang dilakukan kaum kreasionis ini berupaya menubrukkan gerbong
sains dan agama, namun langkahnya sia-sia belaka. Para ilmuwan tak peduli dan
tak menanggapi apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka perbuat. Bukannya
mereka sok atau angkuh, tapi kenyataannya walau berbau-bau ilmiah, karya para
kreasionis dianggap sama sekali tak ilmiah, karena mencampur adukkan sains dan
agama. Kecuali kalau artikel karya Harun Yahya dan lainnya termuat di majalah
NATURE,baru mereka tanggapi secara ilmiah. Mungkin saja para kreasionis
pernahmengirimkan seonggok artikel ke meja redaksi NATURE, tapi oleh redaksinya
dibuang ke tong sampah karena tak layak muat


He...he....!! Aneh ya.....Kenapa hanya artikel yang dimuat dalam majalah - majalah tersebut di atas saja yang pasti benar? Ada sebuah tulisan yang sangat menarik dari Frank Tipler di http://www.iscid.org/papers/Tipler_P...iew_070103.pdf yang menunjukkan bahwa banyak teori - teori besar asalnya dari apa yang dianggap sampah oleh kebanyakan ilmuwan pada zamannya. So, tidak ada jaminan bahwa tulisan - tulisan yang dimuat dalam jurnal - jurnal yang prestisius itu menjamin kebenaran. Frank Tipler adalah seorang profesor matematika pada University of Tulane

Sumber: http://www.partaidamaisejahtera.com/diskusi/showthread.php?t=9

Catatan: Tulisan ini saya posting di forum diskusi PDS tetapi karena tidak ada tanggapan, maka saya menanggapi aja sendiri. Selanjutnya tidak ada tanggapan terhadap tanggapan saya tersebut kecuali serangan terhadap pribadi saya.

No comments:

Kartun

Kartun
Foto Tim Apologetik James White (www.aomin.org)