Friday, October 13, 2006

Billy Berbicara dengan Pendetanya tentang Allah

Beginilah jadinya kalau pendetanya menganut teologia yang salah serta logikanya gak jalan.

Billy: "Pendeta, apakah Allah mengasihi semua orang?"
Pendeta: "Ya, Billy" (senyum, mengelus kepala Billy).
Billy: "Tetapi mengapa dalam Roma 9 dikatakan dia membenci Esau?"
Pendeta: "Sudah membaca Alkitab toh, Billy!" (masih senyum). "Yah, Alkitab juga berkata bahwa Allah membenci, namun itu sebenarnya adalah Kehendak Allah yang Rahasia, dan sejauh yang kita tahu, Dia mengasihi setiap orang."
Billy: "Pendeta?"
Pendeta: "Ya, Billy."
Billy: "Jika Allah mengatakan kepada kita kehendak-Nya yang rahasia, apakah itu masih rahasia?"
Pendeta: "aaaaaa, yah, saya pikir …. tidak, Billy, namun yang saya maksudkan adalah kita harus sadar bahwa ada cara Alkitab berbicara tentang kasih Allah terhadap semua orang, dan itulah yang kita perlu pikir, bukan memikirkan satu atau dua tempat dimana dikatakan bahwa Allah membenci."
Billy: "Oh. Bagaimana buktinya bahwa Allah mengasihi semua orang?"
Pendeta: "Yaaah, Dia memberikan setiap sinar matahari kepada setiap orang, Dia memberkati manusia di bumi dengan hari nurani sehingga mereka membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar, dan Dia telah memberikan mereka banyak pemberian yang mereka gunakan untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik dan lebih aman untuk dihuni."
Billy: "Kemudian Dia membuang sebagian besar dari mereka ke neraka??"
Pendeta (sambil garuk – garuk kepala): "Ya, Billy."
Billy: "Pendeta?"
Pendeta: "Ya, Billy."
Billy: "Apakah pantas disebut kasih, kalau Allah memberikan manusia hal – hal yang baik selama beberapa tahun sehingga mereka merasa nyaman lalu kemudian membuang mereka ke neraka?"
Pendeta: "Yaaaah, …. iya, ….., saya pikir demikian karena akan lebih buruk jika.., maksud saya akan, aaaa, yaaah, iya, saya pikir demikian karena Dia tidak langsung membuang mereka ke neraka, namun Dia masih membiarkan mereka mengalami kebaikanNya dan pemeliharaan-Nya bagi ciptaan-Nya. ….."
Billy: "Apakah layak disebut kasih apabila membiarkan seseorang mengalami sesuatu yang baik yang akan mereka ingat selamanya dan [yang akan membuat mereka] selalu membenci Allah, karena hal – hal yang baik yang mereka kasihi melebihi pengampunan [Allah]?"
Pendeta: "Dapatkah kita mengganti topik, Billy? Saya tidak yakin jawaban saya memuaskan kamu."
Billy: "O.K., Pendeta. Apakah Yesus mati untuk semua orang?"
Pendeta: "Mengapa? Pasti, Billy."
Billy: "Pendeta?"

Pendeta: "Ya, Billy."
Billy: "Jika Yesus mati untuk semua orang, mengapa tidak semua orang akan ke surga?"
Pendeta: "Yah, Billy, karena bukan semua orang akan menerima Dia."
Billy: "Namun, Pendeta, dulu saya pikir Yesus menyelamatkan kita. Sekarang anda mengatakan bahwa kita menyelamatkan Yesus ."
Pendeta (tertawa gugup): "Tentu saja tidak, Billy! Saya percaya Yesus menyelamatkan kita seutuhnya! Namun bagaimana kamu sampai berpendapat bahwa kita menyelamatkan Yesus?"
Billy: "Yah, Pendeta, anda mengatakan pada saya bahwa Yesus mati untuk semua orang, dan hanya mereka yang menerima Dia akan diselamatkan. Jadi, ini artinya kematian dan kebangkitan Yesus serta apa yang Yesus kerjakan tidak benar – benar dapat menyelamatkan kita, namun diperlukan sesuatu yang lebih dari itu [untuk menyelamatkan kita], dan sesuatu itu adalah apa yang kita lakukan untuk menerima Dia. Bagi mereka yang tidak menerima Yesus [sebagai Juruselamat] akan binasa. Hal itu berarti bahwa kematian Yesus untuk mereka tidak dapat membantu mereka. Kalau demikian, apa yang Yesus lakukan bagi mereka adalah sebuah kegagalan yang memalukan. Di lain pihak, mereka yang lain yang menerima Dia membuat apa yang dikerjakan Yesus efektif lewat penerimaan mereka akan apa yang dikerjakan-Nya; jadi mereka menyelamatkan apa yang dikerjakan Kristus dari kegagalan yang memalukan. Tanpa kita, Yesus dan apa yang dikerjakan-Nya demi keselamatan kita akan binasa! Jika Yesus tidak dapat menyelamatkan kita tanpa ijin kehendak bebas kita, maka kita adalah Juruselamat yang sebenarnya, dan Yesus adalah seseorang yang kita selamatkan! Wow! Apa yang Dia bisa lakukan tanpa kita?!"
Pendeta: "Er ….. uh ….. maksud saya bukan begitu. Maksud saya jika, …, saya katakan…. tidak... saya percaya Yesuslah yang melakukan penyelamatan itu, Billy, hanya …. Allah telah menentukan supaya kita ….. bebas untuk mene… . maksud saya, kita adalah….. Billy, Alkitab itu misterius. Kelihatannya Alkitab mengatakan sesuatu hal, namun sebenarnya tidak demikian….. kamu menggunakan logika, Billy. Alkitab tidak logis dan kebenarannya bukanlah sesuatu yang kita dapat sesuaikan dengan pikiran kita manusia."
Billy: "Pendeta?"
Pendeta (sekarang wajahnya sedikit mengkerut): "Ya, Billy."
Billy: "Pada saat anda mengatakan Alkitab tidak logis, apakah itu berarti bahwa Alkitab tidak
masuk akal? [menurut anda] masuk akal untuk mengatakan Alkitab tidak logis. Saya pikir itu karena anda menggunakan logika yang sehingga apa yang anda katakan masuk akal."
Pendeta (memandang dengan kesal kepada Billy): "Tidak, Billy, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Alkitab tidak masuk akal. Alkitab memang masuk akal, namun bukan akal kita."
Billy: "Pendeta?"
Pendeta: "Ya, Billy."
Billy: "Mengapa Allah memberikan Alkitab yang tidak masuk akal manusia kepada kita?"
Pendeta: "Yah, Billy, bukan …. Saya pikir …. Alkitab masuk akal, namun tidak memberikan kita jawaban yang kita ingin dengar, dan mengatakan apa yang tampaknya kontradiktif namun sebenarnya tidak, sehingga kita tidak menanyakan pertanyaan – pertanyaan yang sok tahu."
Billy: "Jadi, Allah [menjadikan diri-Nya] tidak masuk akal buat manusia supaya kita tetap rendah hati?"
Pendeta: "Benar, Billy. Allah ingin kita tetap rendah hati, sehingga Dia tidak membiarkan kita berpikir bahwa kita dapat secara mutlak yakin tentang hal - hal yang sangat diyakini oleh beberapa orang yang sombong."
Billy: "Pendeta?"
Pendeta: "Ya, Billy."
Billy: "Apakah anda yakin tentang apa yang baru anda saja katakan kepada saya?"
Pendeta (menunjukkan ketersinggungan yang jelas): "Menurutmu bagaimana, Billy?"
Billy: "Saya pikir anda baru saja menyebut diri anda orang sombong, namun saya tidak tahu mengapa, mungkin karena anda begitu pintarnya sehingga anda tahu begitu banyak tentang Allah, dan bagaimana Dia membutuhkan kita."
Pendeta: "Billy, mengapa kamu tidak bermain saja di luar sana seperti anak – anak lain?"
Billy: "Mengapa saya harus pergi dan bermain di luar sana, pada saat saya bisa tinggal di sini bersama bapak dan belajar tentang bagaimana menyelamatkan Allah?"
Pendeta: "Kamu harus hati – hati , Billy. Saya tidak pernah berkata bahwa kita menyelamatkan Allah. Kamulah yang mengatakannya, ingat itu. Saya hanya percaya bahwa pilihan – pilihan kita adalah sesuatu yang berarti, serta Allah tidak memperlakukan kita seperti robot Dia menciptakan kita untuk memiliki tanggung jawab yang sebenarnya."
Billy: "Pendeta?"
Pendeta (sekarang kelihatan sedikit marah): "Ini pertanyaan terakhir yang kamu katakan anak muda! Saya mempunyai hal – hal lain yang penting yang perlu saya lakukan dan kamu harus bermain di luar."
Billy: "Pada saat Allah membuat Abraham tidur, apakah Abraham mengatakan apa yang ia pikirkan tentang ’tanggung jawabnya sebagai manusia’?"

Pendeta (marah): "Saya sekarang sedang sakit kepala berat, Billy, dan saya tidak dapat menjawab lagi pertanyaanmu, namun saya hanya bisa katakan yang satu ini. Siapapun yang telah mengajarmu, dia telah mengajarkanmu hal – hal yang sebenarnya anak seusiamu belum pantas untuk pikirkan. Kedengarannya kamu telah belajar sejenis hyper-Calvinism! Sebaiknya engkau hati – hati, anak muda!"
Billy: "Saya tidak tahu tentang hyper-Calintisim, namun saya membacanya di dalam Alkitah. Terima kasih telah meluruskan saya. Saya akan mencoba untuk memotong bagian yang buruk itu. Boleh saya pinjam gunting?"
Pendeta (bangkit dari kursinya): "Keluar dari sini kau, kau, kau, kau …..!"
Billy: "Tidak apa – apa,.Pendeta. Saya akan meminta Joey. Dia mempunyai beberapa gunting yang baik pada saat kami menggunting gambar “persahabatan dengan Yesus” untuk Sekolah Minggu. Selamat Tinggal Pendeta" Hak Cipta 1997 by John Pedersen
Tulisan ini adalah terjemahan dari sebagian tulisan pada: http://www.trinityfoundation.org/journal.php?id=159

Thursday, October 12, 2006

Seri Bina Wawasan Reformasi: Vocation

Salah satu pokok pemikiran tema ini adalah "Can Life in Business still be a calling?" Kita menyadari sebagai orang Kristen, hidup adalah panggilan Tuhan. Namun bagaimana dengan urusan bisnis kita? Urusan sandang pangan papan? Urusan kedudukan kita? Urusan kekuasaan kita? Masihkah merupakan panggilan Tuhan.


Sumbangsih penting Reformasi abad ke-16 adalah seruannya tentang kehidupan sebagai suatu panggilan. Seruan ini menggemakan kembali ajaran Alkitab sejalan dengan berita kabar baik akan ketuhanan Kristus atas segala ciptaan. Tidak ada lagi perbedaaan antara pekerjaan yang bernilai kekal dan suci dengan pekerjaan yang fana di dalam dunia ini. Semua pekerjaan merupakan jawaban atas panggilan Tuhan. Inilah saatnya orang Kristen Indonesia menyatakan sumbangsih reformasi itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masa kini. Menyuarakan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai penggenapan keagungan rencana kedaulatan Tuhan kita, Yesus Kristus.



Seminar satu hari ini akan diadakan pada:
Sabtu, 14 Oktober 2006
Pukul: 09.00 - 15.00
Tempat: Jakarta Design Center (JDC) lt. 6 • Slipi • Jakarta Barat
Pembicara: Pdt. Joshua Lie
Beliau mendalami Reformational philosophy and theology sejak tahun 1993. Setelah menyelesaikan program magister dalam philosophical theology, sejak tahun 1999 beliau melanjutkan program doktoral seraya melayani sebagai gembala jemaat di Toronto sampai tahun 2006.



Acara :
Sesi Pertama: Life is Calling
Sesi Kedua: Solid vs. Liquid Vocation
Sesi Ketiga: Work: Between Mind and Heart
Sesi Keempat: Tanya-Jawab

Informasi dan Pendaftaran:
Bina Wawasan Reformasi
Tel. 5823110 ext. 0, 214, 216
Contact Persons: Dian, Lisa, Hanna
Biaya: Rp. 100.000 (termasuk makan siang)
Transfer ke BCA Acc. no.: 709 0046 777 a.n. Tjahjadi Rameli




Sumber:http://www.pemudakristen.com/news/vocation.php

POSTING TENTANG SAINS YANG MEWAKILI SEBAGIAN PANDANGAN SAYA

Berikut adalah kritik semi poin per poin saya terhadap sebuah tulisan yang terdapat pada: http://zamanku.blogspot.com/2005/10/intelligent-design-pencampur-aduk.html. Tulisan ini saya ini diposting di thread Intelligent Design Vs Evolusi di www.partaidamaisejahtera.com/forum.htm. Alasan saya untuk posting di sini adalah karena berhubungan dengan pandangan saya mengenai sains.


INI ADALAH POSTINGAN ASLI.

Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam)

Mas [SNIP] dan teman-teman yth,Sebelumnya pernah saya posting tentang siapa
Harun Yahya. Saya sebut Harun Yahya karena dialah yang secara terang-terangan
mengklaim telah berhasilmeruntuhkan Teori Evolusi - walau cuma lewat tulisan di
salah satu bukunya. Ia sendiri (dan tim kerjanya) tak menciptakan teori baru
untuk menyanggahnya,tapi cukup mencari celah dan titik-titik kelemahan dari
temuan para evolusionis plus berbekal kitab suci saja. Teori lama yang sudah
diperbarui oleh ilmuwan lainnya pun masih mereka perdebatkan. Seolah meruntuhkan
teori ilmiah yang sudah berusia ratusan tahun lamanya itu bagai mencomot durian
gratisan yang runtuh dari pohonnya saja. Langkahnya lazim disebut 'science
berbungkus agama'. Saya tampilkan sosok Harun Yahya karena Anda pernah menyebut
tentang "Intelligent Design", dan juga dipostingan sebelumnya sekilas pernah
menyebut tentang "dari kera jadi manusia", "missing link", dan majalah
"Scientific America". Terkait dengan statement "dari kera jadi
manusia",pertanyaan saya: "Apakah Anda sudah membaca buku The Origin of
Species"?Kalau belum, maklum ada pernyataan seperti itu. Kalau sudah, di bab
manadan di halaman berapa kalimat itu tercantum? Intinya, teori evolusi
(Darwinisme) cuma menduga bahwa nenek moyang species manusia dan species
kera/monyet itu adalah sama, bukan dari berwujud kera lalu dalam
prosesnyamenjadi manusia.Lalu tentang majalah "Scientific America". Kalau tak
salah, Anda pernah studi di AS kan? Atau sekarang masih mukim disana? Coba cek
di toko buku sebelah, bentuknya seperti apa majalah "Scientific America"
tersebut. Atau kalau Anda sudah mengoleksinya, coba buka halaman demi halaman.
Lalu simpulkan, redaksionalnya condong ke arah mana. Majalah itu adalah salah
satu publikasi milik kaum kreasionis, tak bisa disejajarkan dengan "Nature" dan
lainnya. Mungkin majalahitu bisa disejajarkan dengan majalah "Dharmais" terbitan
kroni Soehartoyang dulu sempat terbit di Indonesia. Isinya ya mau tidak mau
musti memuji langkah-langkah Soeharto di masa lalu. Terbukti majalah itu lalu
mati berkalang kubur, karena ya jumlah pembacanya amat-amat terbatas. Mana mau
sih masyarakat kita yang sudah cerdas - namun dengan kantong cekak - mau membeli
'kemasan propaganda'? Linknya kok tidak disertakan? -> Anda menulis: "Selain
itu silakan baca tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau). Dia juga
ilmuwan yang kebetulan beragama kuat."Kreasionis vs Evolusionis (tolong jangan
dibaca Science vs Religion)Kembali ke Harun Yahya. Sebagaimana kita tahu, Harun
Yahya hanyalah satu dari sekian ribu kreasionis yang rajin merecoki temuan para
ilmuwan. Mereka boleh dibilang sebagai "kelompok pengganggu" temuan-temuan dari
para ilmuwan murni, bukan ilmuwan gadungan. Mereka inilah kelompok yang suka
mencampur adukkan antara sains dan agama. Mereka juga hobi mencomot 'nama' untuk
menjustifikasi suatu kebenaran saintifik. Ini kebiasaan buruk para kreasionis,
yang suka mencantumkan nama-nama terkenal dan deretan gelar akademis (bahkan
sering tidak punya kaitan) untuk 'pamer' bahwa kreasionisme juga bagian dari
sains.'Tokoh kreasionis' lainnya bisa disebut nama Michael Behe, Duane T. Gish,
Ken Ham dan lainnya. Mungkin profesor yang Anda sebut itu termasuk dalam
kelompok ini.Beragam publikasi untuk membentuk opini masyarakat mereka terbitkan
dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Tak cuma media massa
konvensional, mereka juga merambah ke internet dengan berbagai situs web-nya
yang 'penuh keajabiban'. Bahkan di AS, para kreasionis mendirikan sebuah museum
berkonsep sesuaidengan apa yang dia mau tentang penciptaan manusia. Tak heran
kalau di salah satu etalasenya bertengger patung Adam Hawa yang dikelilingi
dinosaurus, seolah mereka pernah hidup sezaman. Juga ada patung Noah lagi naik
kapal untuk menghindari banjir bandang yang melanda. Mereka juga rajin
'mengilik-ilik' pemerintah federal agar mengajarkan teori penciptaan di
sekolah-sekolah sesuai kitab suci bukanmenurut teori evolusi. Lalu terciptalah
istilah 'creationism vs evolutionist'. Lalu dari mana duitnya? Tentu saja para
kreasionis ini punya pendana - merekayang punya kepentingan (Alangkah indahnya
andai dana itu disalurkan keorang-orang papa yang bertebaran dimana-mana, biar
tak mubazir tentu saja). Biarkan sains dan agama berjalan di relnya
masing-masingJangan heran kalau saya pernah tuliskan "Biarkan sains dan agama
berjalandi relnya masing-masing, tak perlu dicampuradukkan". Kalau kita
bicarasoal spiritual yang menyemangati hidup kita semua okelah, tak sebatas pada
ajaran agama saja. Kalau Anda bilang, "Agama seharusnya tidak boleh bertentangan
dengan sains. Jika saat ini tampak bertentangan, kitanya yang masih belum cukup
pandai". Saya pribadi tak setuju dengan pendapat itu. Ini sama saja mengatakan,
"Sains tak boleh bertentangan dengan agama." Seperti kita tahu, klaim ini
berakibat serius, dimana pada masa lalu ada ilmuwan dihukum gantung, dibantai,
atau minimal dikucilkan karena temuannya dianggap bertentangan dengan dogma
agama. Dulu dipercaya bumi itu datar atau mirip topi, tapi kenyataannya bumi itu
bulat. Namanya juga relnya berbeda, antara sains dan agama tak perlu dicampur
adukkan, apalagi dipertentangkan. Untuk apa? Kecuali kalau sains dan agama
dipaksakan berjalan di rel yang sama. Kalau pada zaman kini isue itu
dimunculkan, amat bertentangan dengan kebebasan berekspresi. Belum lagi kalau
kita bicara soal temuan kloning yang oleh otoritas Vatikan sudah buru-buru
dilarang. Ada pihak yang sudah mengkomersialkan jasa kloning, seperti kloning
anjing dan kucing dengan tarip sekian dollar. Dan tak lama lagi bakal ada
manusia yang hidup di bumi karena hasil kloning, dimana para ilmuwan sedang
membuat genome makhluk sebanyak-banyaknya dalam proyek 'Noah Ark'. Mirip seperti
film Schwartzenegger "6 Days". Apakah kelak MUI juga akan mengeluarkan fatwa
haram untuk kloning? Terbukti apa yang dilakukan kaum kreasionis ini berupaya
menubrukkan gerbong sains dan agama, namun langkahnya sia-sia belaka. Para
ilmuwan tak peduli dan tak menanggapi apa yang mereka lakukan dan apa yang
mereka perbuat. Bukannya mereka sok atau angkuh, tapi kenyataannya walau
berbau-bau ilmiah, karya para kreasionis dianggap sama sekali tak ilmiah, karena
mencampur adukkan sains dan agama. Kecuali kalau artikel karya Harun Yahya dan
lainnya termuat di majalah NATURE,baru mereka tanggapi secara ilmiah. Mungkin
saja para kreasionis pernahmengirimkan seonggok artikel ke meja redaksi NATURE,
tapi oleh redaksinya dibuang ke tong sampah karena tak layak muat.Serangan Harun
YahyaMenurut Harun Yahya, teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun
kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap evolusi sebagai
fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui media adalah kunci
keberhasilan penipuan ini. Singkatnya, media dan kalangan akademisi yang menjadi
pusat-pusat kekuatananti agama, mempertahankan pandangan evolusionis dan
memaksakannya kepadamasyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif sehingga akhirnya
evolusi menjadisebuah gagasan yang tidak pernah ditolak. Penolakan terhadap
teori evolusidianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan
mengabaikanrealitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan
telahtersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui
ilmuwanevolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi
dalamlingkungan ilmiah atau dalam media.Kaum evolusionis mendapat banyak
keuntungan dari program "cuci otak" media.Banyak orang percaya begitu saja pada
evolusi tanpa merasa perlu bertanya"bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti
evolusionis dapat mengemaskebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga
mampu meyakinkan orangdengan mudah.Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka,
teori evolusi adalahdongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang
sangat tidak masukakal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki
kekuatan dankecerdasan ajaib untuk menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang
kompleks.Kisah panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek.
Beberapa media yang ia tuding diantaranya adalah Nature, Time,
NationalGeographic, Scientific American, dan Focus. Harun Yahya menuduh
bahwaderetan media massa prestisius yang dibaca jutaan umat manusia di
berbagaibelahan bumi itu mengambil teori evolusi sebagai ideologi.




DAN INI ADALAH TANGGAPAN SAYA DENGAN MENGUTIP DARI TULISAN INI:



Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam)


Menarik sekali! Seolah - olah sains itu bebas dari iman!


Mereka inilah kelompok yang suka mencampur adukkan antara sains dan agama.


Lihat di atas.


'Tokoh kreasionis' lainnya bisa disebut nama Michael Behe, Duane T. Gish, Ken
Ham dan lainnya. Mungkin profesor yang Anda sebut itu termasuk dalam kelompok
ini.


Aneh, Behe di masukkan sebagai kreasionis! (bukan berarti bahwa kreasionis lebih buruk dari yang lain) Anyway, apa ya definisi kreasionis menurut si penulis ini?


Tak heran kalau di salah satu etalasenya (note: maksudnya para kreasionis)
bertengger patung Adam Hawa yang dikelilingi dinosaurus, seolah mereka pernah
hidup sezaman..........

Dan para evolusionis itu membuat patung - patung yang menunjukkan seolah - olah semua makhluk hidup memiliki nenek moyang yang sama.


Biarkan sains dan agama berjalan di relnya masing-masing


Seolah - olah sains tidak berbasis iman!


Serangan Harun YahyaMenurut Harun Yahya, teori evolusi tidak mempunyai dasar
ilmiah. Namun kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap
evolusi sebagai fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui
media adalah kunci keberhasilan penipuan ini. Singkatnya, media dan kalangan
akademisi yang menjadi pusat-pusat kekuatan anti agama, mempertahankan pandangan
evolusionis dan memaksakannya kepada masyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif
sehingga akhirnya evolusi menjadi sebuah gagasan yang tidak pernah ditolak.
Penolakan terhadap teori evolusi dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan
dan mengabaikan realitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan
telah tersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui ilmuwan
evolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi dalam lingkungan
ilmiah atau dalam media.Kaum evolusionis mendapat banyak keuntungan dari program
"cuci otak" media.Banyak orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasa
perlu bertanya "bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti evolusionis dapat
mengemaskebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan
orang dengan mudah.Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka, teori evolusi
adalah dongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang sangat tidak
masuk akal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki kekuatan dan
kecerdasan ajaib untuk menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks. Kisah
panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek. Harun Yahya
menuduh bahwa deretan media massa prestisius yang dibaca jutaan umat manusia di
berbagai belahan bumi itu mengambil teori evolusi sebagai ideologi.


OK...banyak hal yang saya tidak setuju dengan Harun Yahya. Saya bukan pengikut Yahya. Tapi argumen ad hominem yang coba dikedepankan penulis ini tidak tepat dan patut dipertanyakan kesyahihannya. Yang saya maksudkan dengan argumen ad hominem adalah argumen dimana seseorang mengambil posisi lawan bicara kemudian dari posisi itu secara syah mengambil kesimpulan yang bertentangan dengan posisi lawan bicara (ini adalah ad hominem yang syah, tapi ada pula ad hominem yang tidak syah). Salah satu contoh ad hominem (yang syah) dalam Alkitab adalah tulisan Paulus yang dalam 2 Kor 12:16


Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi--kamu
katakan--dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya.

yang sering diangkat oleh islam - islam di forum ini untuk menunjukkan bahwa Paulus sendiri mengakui bahwa dia licik. Si Penulis memang merepresentasikan posisi Yahya dan Kreasionis lain, tapi kesimpulannya tidak syah. Hanya karena berbagai media masa yang disebutkan itu prestisius dan dibaca banyak orang apakah berarti bahwa pasti benar?????? Belum tentu!!! Kita harus melihat terlebih dahulu bagaimana argumen - argumen dalam media massa tersebut baru bisa menganggapnya benar.


Intinya, teori evolusi (Darwinisme) cuma menduga bahwa nenek moyang species
manusia dan species kera/monyet itu adalah sama, bukan dari berwujud kera lalu
dalam prosesnya menjadi manusia.


Yea...menduga! Itu kata kuncinya! Tapi lihatlah kelakuan dari para ahli evolusi; evolusi tidak dipandang seperti layaknya sains yang lain boleh dimodifikas atau dirubah atau dibuang berdasarkan hasil pengamatan. Mereka menjadikan evolusi sebagai dogma. Apa bedanya dengan agama??? Tidak berarti bahwa agama lebih jelek dari sains. Soal nenek moyang manusia bukan kera tadi; memang benar Evolusi tidak mengajarkan manusia berasal dari kera tapi lebih jelek dari itu, manusia serta semua makhluk hidup lain di alam bumi ini berasal dari nenek moyang yang sama yaitu organisme bersel satu. Dan menurut mereka kalau ditelusuri maka sebenarnya semua makhluk hidup itu hanyalah hasil dari reaksi kimia buta.Aneh memang, dulu waktu aku di SMP pertama - tama yang diajarkan adalah bahwa organisme tidak terbentuk dari bahan - bahan organis secara spontan tapi makhluk hidup sebenarnya berasal dari makhluk hidup. Tetapi setelah sampai di SMA, apa yang diajarkan di SMP itu ditolak mentah - mentah dalam pelajaran tentang evolusi. Bingung deh..mau ikut yang mana!



Terbukti apa yang dilakukan kaum kreasionis ini berupaya menubrukkan gerbong
sains dan agama, namun langkahnya sia-sia belaka. Para ilmuwan tak peduli dan
tak menanggapi apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka perbuat. Bukannya
mereka sok atau angkuh, tapi kenyataannya walau berbau-bau ilmiah, karya para
kreasionis dianggap sama sekali tak ilmiah, karena mencampur adukkan sains dan
agama. Kecuali kalau artikel karya Harun Yahya dan lainnya termuat di majalah
NATURE,baru mereka tanggapi secara ilmiah. Mungkin saja para kreasionis
pernahmengirimkan seonggok artikel ke meja redaksi NATURE, tapi oleh redaksinya
dibuang ke tong sampah karena tak layak muat


He...he....!! Aneh ya.....Kenapa hanya artikel yang dimuat dalam majalah - majalah tersebut di atas saja yang pasti benar? Ada sebuah tulisan yang sangat menarik dari Frank Tipler di http://www.iscid.org/papers/Tipler_P...iew_070103.pdf yang menunjukkan bahwa banyak teori - teori besar asalnya dari apa yang dianggap sampah oleh kebanyakan ilmuwan pada zamannya. So, tidak ada jaminan bahwa tulisan - tulisan yang dimuat dalam jurnal - jurnal yang prestisius itu menjamin kebenaran. Frank Tipler adalah seorang profesor matematika pada University of Tulane

Sumber: http://www.partaidamaisejahtera.com/diskusi/showthread.php?t=9

Catatan: Tulisan ini saya posting di forum diskusi PDS tetapi karena tidak ada tanggapan, maka saya menanggapi aja sendiri. Selanjutnya tidak ada tanggapan terhadap tanggapan saya tersebut kecuali serangan terhadap pribadi saya.

Wednesday, October 11, 2006

HUKUM LOGIKA ADALAH KEHARUSAN DALAM KEHIDUPAN

Ini adalah hasil transkripsi ke Bahasa Indonesia dari kuliah yang disampaikan Ravi Zacharias di satu forum di Afrika Selatan yang bertema ”The Uniqueness of Christ”. Kuliah ini dapat didownload dalam versi mp3 di http://www.rzim.org/. Kuliah ini sudah saya download sebelumnya.

Dalam bagian ini Ravi membahas apa yang pernah dialaminya pada saat ditantang oleh seorang profesor penganut agama Panteisme Timur (yang di dalamnya termasuk Hindu) di Amerika Serikat. Si profesor tidak mengakui hukum kontradiktif sementara Ravi mempertahankan hukum logika kontradiktif. Hukum kontradiksi mengatakan ”A tidak mungkin Non A pada saat yang sama dan hubungan yang sama”. Contoh: Saya tidak dapat mengatakan; ”mobil saya sudah dijual” dan ”mobil saya tidak dijual’ pada saat yang sama dengan merujuk kepada satu mobil yang sama. Tetapi itu baru bisa dikatakan kalau saya memiliki lebih dari satu mobil atau dengan kata lain hubungannya tidak sama lagi.

Pada akhirnya jelas si profesor harus dipermalukan oleh Ravi. Namun untungnya adalah dia tidak dipermalukan di depan umum tetapi dalam pembicaraan di dalam restoran. Berikut transkripnya yang saya diindonesiakan:

Saya ingat pernah berbicara, [bagi mereka yang sudah mendengar kisah ini saya mohon bersabar], tapi contoh ini adalah contoh yang paling tajam yang dapat saya berikan. Saya ingat pernah berbicara di salah satu kota bagian barat Amerika Serikat yaitu saat satu profesor dari salah satu universitas di sana meminta saya untuk berbicara mementang salah satu agama Timur. Saya katakan saya tidak akan melakukannya.

Dia berkata,
”Saya adalah seorang Amerika dan penganut dari agama itu”
Mari kita sebut saja X.
Dan dia berkata,
”Saya telah mengajarkan agama tersebut dalam kuliah – kuliah saya dan pada kesempatan lain, dan saya ingin anda berbicara mengenai mengapa anda tidak setuju dengan dogma (ajaran) dari agama X dan mahasiswa – mahasiswa akan menyerang dan menghancurkan anda setelah kuliah anda.”

Saya menjawab,
”Tidak, saya benar – benar tidak ingin melakukan itu.”

Saya katakan,
”Saya belajar bahwa bukan saja tangan anda akan kotor apabila anda melempar lumpur / tanah kepada orang lain, tetapi juga ada akan kehilangan banyak tanah tempat berpijak.”

Dia menerima itu.

Saya katakan,
”Tetapi saya akan katakan kepada anda mengapa saya menjadi Kristen. Saya akan berbicara tentang pokok ini.”
Pada akhir kuliah saya, dia cukup keras menentang apa yang saya katakan. Di depan orang yang menghadiri kuliah tersebut dia menyerang dan mengatakan saya tidak memahami logika dan sebagainya, dan sebagainya.

Saya katakan kepadanya,
”Lihat, kita tidak akan bisa maju dalam pembicaraan ini. Bagaimana kalau kita pergi makan saja. Anda yang bayar dan saya yang berdoa.”

Lalu kami bertemu dan pergi makan siang bersama. Dia membawa seorang profesor psikologi bersamanya. Si profesor psikologi dan saya sudah menghabiskan makanan, sementara si filsuf belum menyentuhnya sama sekali. Makanannya sudah mengeras di depannya. Dia mengambil semua tisu di atas meja itu untuk memberikan gambaran tentang argumennya.

Dan pada dasarnya yang dia katakan adalah: Ada dua jenis logika. (sebenarnya dia salah karena ada lebih dari dua logika). Namun dia berkata bahwa ada dia hukum logika. Satu adalah hukum non kontradiksi. Hukum non kotradiksi berarti bahwa kalau sesuatu benar maka yang bertentangan dengan itu pasti salah. Kalau sesuatu benar maka yang bertentangan dengan itu pasti salah. Hukum ini disebut logika ”ini atau itu”. Sebagai contoh, kalau saya mengatakan kepada anda bahwa ada mobil merah yang diparkir tepat di bagian luar dari tangga yang di sana, maka kalau pernyataan itu benar pernyataan yang sebaliknya pasti salah. Saya tidak dapat mengatakan pada saat yang sama bahwa mobil merah tidak diparkir tepat di luar tangga tersebut. Jadi hanya ada kemungkinan ”benar atau salah”. Dengan ilustrasi yang lebih sederhana dapat digambarkan sebagai: Jika A maka bukan Non A pada saat yang sama. Jadi itu adalah dogma ”ini atau itu”.

Dan dia berkata,
”Ravi, itu adalah hukum non kontradiksi. Itu adalah ”ini atau itu” Dan itu adalah cara berpikir orang Barat. Orang Barat berpikir ’ini atau itu’”

Saya berkata,
”Saya tidak setuju dengan bagian terakhir, kenapa anda tidak mencoretnya saja!”

Namun dia menolaknya. Kemudian dia berpindah ke cara berpikir Timur.

Dia berkata,
”Di Timur anda menggunakan logika ”ini dan itu”. Logikanya adalah logika dialektik. Anda tidak berkata ”ini” atau ”itu”, tetapi mengatakan kedua – duanya. Karl Marx menggunakan sistem dialektik, bukan pemberi kerja atau pekerja, tetapi keduanya. Mereka digabungkan menjadi satu dan anda mendapatkan masyarakat tidak berkelas.”

Lucunya, mereka tidak pernah menunjukkan masyarakat semacam itu, tetapi mereka begitu getol berbicara tentang hal itu yaitu mengatakan bahwa ada dogma dialektik dalam argumen tersebut.

Lalu dia berkata,
”Anda lihat Ravi, sistem dialektis bersifat Timur, sistem kontradiksi bersifat Barat.”

Saya menjawab,
”Mengapa anda tidak mencoret saja kalimat itu, saya tidak setuju.”

Namun dia menolak untuk mencoretnya. Yang ingin dikatakannya adalah demikian. Saya telah berbicara tentang begitu banyak kontradiksi pandangan panteistik tertentu. Kontradiksi yang sangat tajam.

Dia berkata,
”Anda lihat Ravi, jika anda menganggap sistem dialektis benar, maka setiap saat anda menemui kontradiksi, anda tidak akan heran akan hal itu. Anda berkata itu adalah cara berpikir mereka. Mereka menerima dua pernyataan yang bertentangan dan menganggap keduanya benar. Jadi jika anda menanyakan kepada satu pengikut agama X apakah Allah itu bersifat Pribadi, dia menjawab ya. Kalau anda menanyakan pertanyaan tersebut kepada orang kedua yang juga pengikut agama X, dia menjawab tidak. Lalu anda bertanya kepada orang ketiga siapa di antara kedua orang ini yang benar dan dia akan menjawab bahwa keduanya benar. Itu adalah cara berpikir Timur. Jadi kita memiliki ada ’ini atau itu’ yang merupakan sesuatu yang bersifat Barat dan sistem ’ini dan itu’ yang merupakan cara berpikir orang Timur.”

Dia terus menerus saja berbicara dengan eloknya.

Akhirnya saya berkata kepadanya,
”Bolehkah saya mengatakan sesuatu pada anda tuan?”

Dia mengatakan ”Ya” lalu dia mengambil pisau dan garpunya dan mulai memotong makanannya.

Pada saat dia sementara memotong makanannya saya berkata,
”Ini yang anda katakan kepada saya, ada sistem ”ini atau itu” yang bersifat Barat dan sistem ”ini dan itu” yang bersifat Timur, dan anda ingin saya mempelajari agama X, bukan? Ini pertanyaan saya kepada anda doktor, Apakah anda mengatakan kepada saya bahwa pada saat saya mempelajari agama X, saya harus menggunakan sistem ’ini dan ituatau tidak sama sekali, benar khan?”

Anda tahu apa yang dia lakukan? Dia meletakkan pisau dan garpunya, dan dengan ekspresi wajah yang sangat gugup (andaikan saya mempunyai kamera untuk mengambil gambarnya) dia berkata kepada saya,
”Sistem ’ini atau itu’ tampak muncul dengan sendirinya, bukan?”

Saya berkata kepadanya,
”Ya doktor, sebenarnya saya mempunyai berita yang sangat mengejutkan buat anda. Bahkan di India, mereka melihat ke kiri dan ke kanan sebelum menyeberang jalan. Bis yang lewat atau saya yang lewat. Bukan kedua – duanya [secara bersama – sama melewati jalan yang sama].

Anda paham apa yang dia lakukan? Dia menggunakan sistem “ini atau itu” untuk membuktikan sistem ”ini dan itu”. Dia sangat terkejut mendapati bahwa dia menggunakan sistem ”ini atau itu” setiap hari. Jadi hukum kontradiksi tidak ada hubungan dengan apakah seseorang berasal dari Timur atau Barat, tetapi sesuatu yang paling baik merefleksikan realitas.

......hal itu sangat dipahami oleh pemikir – pemikir Timur, karena itu mereka berkata, ”pada saat mulut dibuka, maka semuanya bodoh”. Tetapi mulutnya terbuka untuk mengatakan itu.

Atau seperti yang dikatakan salah satu penganut mistik terkenal,
“Dia yang paham tidak berbicara dan dia yang berbicara tidak paham.”

Lalu, apakah dia berbicara? Dan kalau dia berbicara, maka berarti dia tidak tahu. Dan kalau dia tidak tahu, apakah ada artinya sama sekali kalau dia berbicara?

Jadi, hukum kontradiksi harus diterapkan terhadap realitas. Kalau anda menolaknya, maka anda berakhir dengan berbicara tentang tongkat yang hanya memiliki satu ujung.


Catatan saya:
Pertanyaan besarnya adalah apakah pemimpin – pemimpin kristen atau orang – orang kristen menggunakan logika? Atau apakah mereka dengan rajin berpikir secara benar dan logis? Atau apakah mereka dengan berusaha mempelajari logika kalau andaikata mereka kurang paham? Kelihatannya tidak.

Pada saat berbicara tentang logika orang Kristen dan bahkan pemimpin Kristen sekalipun akan mengacaukannya dengan sains dan kadang – kadang secara tidak sadar berpegang pada filsafat – filsafat yang bodoh sehingga beranggapan bahwa sains adalah logika atau beranggapan bahwa empirisisme adalah logika. Atau ada yang menganggap filsafat naturalisme sebagai logika.

Harus ada orang – orang yang dengan tekun mendoakan gereja supaya muncul orang – orang yang dipakai Tuhan untuk mengajar umat Tuhan untuk berjalan dalam Kebenaran bukan dalam kebodohan dunia ini.

Kartun

Kartun
Foto Tim Apologetik James White (www.aomin.org)